PENGANTAR LABORATORIUM

Misi  utama  yang  diemban  universitas riset  adalah  penelitian  dan  pengajaran,  yang  harus  mengutamakan  dua  hal esensial  yaitu  discovering  dan  sharing.  Melalui  penelitian  akan  berlangsung discovering  pengetahuan, bukan sekadar acquiring, yang mengandaikan seorang ilmuwan berupaya mengerahkan segenap daya intelektualnya dalam melakukan pencarian, penjelajahan, eksperi mentasi, percobaan, dan pengujian  ilmiah  melalui  trial  and  error  method. Upaya  ini  harus  dilakukan secara tekun, konsisten, dan sistematis berdasarkan kaidah-kaidah keilmuan, sehingga  melahirkan  suatu  breakthrough  yakni  penemuan  penemuan  baru yang memberi manfaat bagi kepentingan umat manusia.

  Melalui  pengajaran  akan  berkembang  sharing  pengetahuan  bukan sekadar transmitting pengetahuan yang mengandaikan seorang sarjana dan ilmuwan bukanlah satu-satunya pemegang otoritas keilmuan di suatu komunitas akademis, melainkan salah satu simpul saja dari serangkaian mata rantai sumber ilmu pengetahuan. Dengan prinsip sharing, ilmu pengetahuan dibagi dan dialirkan ke segenap sivitas akademika melalui mekanisme shared experience.

     Mekanisme ini membuka peluang berlangsungnya self-criticism, self-renewal,  pengujian, dan perdebatan sehingga terbangun wacana dan tercipta dialektika pemikiran yang dapat memicu discovery dan exploration. Karena itu, setiap ilmuwan harus  mampu  menjaga  keseimbangan antara kegiatan ilmiah di ruang laboratorium dan kegiatan mengajar di ruang kelas. Penciptaan, penemuan, dan produksi ilmu pengetahuan terjadi melalui proses yang panjang, suatu sinergi antara ketekunan bereksperimen di laboratorium (termasuk riset lapangan) dan kegigihan berdialektika di ruang kuliah. Bukankah pengalaman Eureka! Archimedes (287-212 SM) karena ia melakukan dialog dan kontemplasi panjang serta ‘bereksperimen kecil’ dengan melompat ke bak mandi, yang menjadi sumber ilham dalam merumuskan asas hidrostatika? Dunia kemudian mencatat, hukum Archimedes tentang asas hidrostatika dalam ilmu fisika ini memberi kontribusi besar dalam sejarah perkembangan ilmu pengetahuan modern.

A.  Pengertian Laboratorium

Menurut Direktorat Pendidikan Menengah Umum (1995:7), Laboratorium adalah tempat melakukan percobaan dan penyelidikan. Tempat ini dapat merupakan  suatu  ruangan  tertutup,  kamar,  atau  ruangan  terbuka,  misalnya kebun. Dalam pengertian yang  terbatas  laboratorium  ialah  suatu  ruangan yang  tertutup  tempat  melakukan  percobaan  dan  penyelidikan.  Selain  itu, menurut Widyarti (2005:1) “Laboratorium   adalah   suatu   ruangan   tempat melakukan  kegiatan  praktek  atau  penelitian  yang  ditunjang  oleh  adanya seperangkat  alat-alat Laboratorium  serta  adanya  infrastruktur  Laboratorium yang lengkap”. Kemudian, menurut Wirjosoemarto, dkk (2004: 40) “pada konteks proses belajar mengajar sains di sekolah-sekolah seringkali istilah Laboratorium diartikan dalam pengertian sempit yaitu  suatu  ruangan  yang didalamnya terdapat sejumlah alat-alat dan bahan praktikum”.

 B.  Jenis Laboratorium

Laboratorium dapat bermacam macam jenisnya. Menurut Wirjosoemarto dkk (2004: 41) di Sekolah Menengah, umumnya jenis laboratorium disesuaikan dengan mata pelajaran yang membutuhkan laboratorium tersebut. Karena itu di sekolah-sekolah untuk pembelajaran IPA biasanya hanya dikenal Laboratorium Fisika, Laboratorium Kimia dan Laboratorium Biologi. Di SLTP mungkin hanya ada Laboratorium IPA saja. Di Perguruan Tinggi, untuk satu jurusan saja,  mungkin  terdapat  banyak  laboratorium. Kadang-kadang atas pertimbangan efisiensi, suatu ruangan laboratorium difungsikan  sekaligus  sebagai  ruangan  kelas untuk proses belajar mengajar. Laboratorium jenis ini dikenal sebagai Science classroom laboratory. Kelebihan jenis laboratorium ini bersifat multi guna.

 A.  Fasilitas dan Penataan Ruang Laboratorium

Menurut Wirjosoemarto dkk (2004: 44) laboratorium yang baik harus dilengkapi  dengan berbagai fasilitas untuk memudahkan pemakaian laboratorium dalam melakukan aktivitasnya. Fasilitas tersebut ada yang berupa fasilitas umum dan fasilitas khusus. Fasilitas umum merupakan fasilitas yang dapat digunakan oleh semua pemakai Laboratorium contohnya penerangan, ventilasi, air, bak cuci (sinks), aliran listrik dan gas. Fasilitas khusus berupa peralatan dan mebelair, contohnya meja siswa/mahasiswa, meja guru/dosen, kursi, papan tulis, lemari alat lemari bahan, ruang timbang, lemari asam, perlengkapan P3K, pemadam kebakaran dan lain-lain.

Menurut Wicahyono (2003: 30), untuk menentukan apakah suatu ruangan itu cocok   atau tidak untuk dijadikan laboratorium, kita perlu memperhatikan beberapa hal seperti arah angin, dan arah datangnya cahaya. Apabila memungkinkan, ruangan   Laboratorium sebaiknya terpisah dari bangunan ruangan kelas. Hal ini perlu untuk  menghindari terganggunya proses belajar mengajar di kelas yang dekat dengan laboratorium akibat dari kegiatan yang berlangsung di laboratorium, baik suara   atau   bau yang ditimbulkan.

DAFTAR PUSTAKA

Amien, Moh. 1988. Buku Pedoman Laboratorium dan Petunjuk Praktikum Pendidikan IPA Umum (General Science) untuk Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan. Jakarta : DEPDIKBUD

Bartholomew, Rolland B and Crawley, Frank E. 1980, Science Laboratory

Brown, Byron C. (2004). Enviromental Health and Safety. Medical College of Georgia

Creedy, John. (1978). A Laboratory Manual for Schools and Colleges. London : Heinemann Education Books Limited

Corder, Antony, (1988). Teknik Manajemen Pemeliharaan (diterjemahkan oleh Kusnul Hadi). Jakarta : Erlangga

Depdikbud. (1999). Pengelolaan Laboratorium Sekolah dan Manual Alat Ilmu Pengetahuan Alam. Jakarta

__________, (2000). Pengelolaan Laboratorium Sains. Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah. Direktorat Pendidikan Menengah Umum : Jakarta

Dana, Charles A. (2002). Science Facilities Standards. Texas Education Agency

Depdikbud. (1993). Buku Katalog Alat Laboratorium Sains untuk SMA. Jakarta : Dikmenum

Depdiknas (1999). Pelatihan Manajemen Pendidikan bagi Kepala Sekolah Menengah Umum se-Indonesia di Surabaya. Jakarta : Depdikbud

Falah Production. Suprapto :1981, Laporan Evaluasi tentang Penggunaan, Pemeliharaan, dan Perbaikan Alat-Alat Pengajaran Sains di SMA. BP3 : Depdikbud

Kertawidjaja. Ion. (dkk) (1990). Studi Pelaksanaan, Pengelolaan Laboratorium Pendidikan Sains, SMA di Provinsi Jawa Barat. FPMIPA IKIP Bandung

Momo Rusbiono (2004). Modul Pengadministrasian Alat dan Bahan Sains, Jakarta : Dikmenjur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s