Pengertian Model Pembelajaran Inovatif

Pengertian model pembelajaran menurut Joyce and Weil (1992: 4) adalah sebagai berikut:

A model of teaching is a plan or pattern that we use to design face to face teaching in classrooms or tutorial settings and to shape instructional materials including books, films, tapes, computer mediated programs, and curricula (longterm courses of study), each model guides us we design instruction to help students achieve various objectives.

Sedangkan inovasi menurut the free dictionary of America (2009: 2),“A creation (a new device or process) resulting from study and experimentation.” Inovasi menurut Wikipedia (2009: 1), “Generally understood as the successful introduction of a new thing or method . . . Innovation is the embodiment, combination, or synthesis of knowledge in original, relevant, valued new products, processes, or services.”

Berkaitan dengan inovasi pembelajaran, Howe and Jones (1993) dalam bukunya yang berjudul “Engaging Children in Science” mengenalkan gagasan tentang tujuan pembelajaran IPA, yaitu mengembangkan otonom pebelajar dan pemikir. Otonom berarti mengatur diri sendiri, menjadi otonom berarti berusaha bertanggung jawab atas tindakan sendiri, berusaha berpikir secara mandiri, dan mampu membuat kesimpulan sendiri. Berkaitan dengan otonomi, Howe and Jones (1993: 87) menyatakan:

Autonomy is related to science and science teaching because science demands that everyone thinks for him or herself. Science includes facts and theories, but its real essence is the ability to consider evidence, and draw a conclusion, and that ability requires independent, or autonomous, thinking.

Selanjutnya Howe and Jones (1993: 87) membagi otonomi menjadi tiga tingkatan sebagai berikut:

Tabel 5.1 Tingkatan Otonomi Siswa

 

Level I

Level II

Level III

Goal for Pupils

Learn and practice procedures

Receive and remember information

Learn behavior standards

Make procedures automatic

Learn from direct experience

Internalize behavior standards

Devise procedures

Design, carry out learning experiences

Plan and work cooperatively in group

Type of Instruction

Direct Instruction

Guided Discovery

Group Investigation

Independent Projects

Role of Pupil

Follow directions

Answer teacher’s questions

Maintain expected behavior

Participate in learning activities

Ask questions, listen to others

Take responsibility for own behavior

Plan and participate in learning activities

Devise questions to answer by investigation

Take responsibility for group behavior carry through

Role of Teacher

Provide information, guide practice

Determine pacing and timing

Set & enforce behavior standards

Provide and guide learning experiences

Ask questions, keep on task

Allow for more student responsibility

Motivate pupils

Monitor progress

Assist with practical problems

Monitor cooperative group behavior

Berdasarkan tingkatan otonomi di atas, pada tingkat pertama dipilih pengajaran langsung untuk melatihkan keterampilan memecahkan masalah secara tahap demi tahap. Pengajaran langsung disebut juga pembelajaran berpusat pada guru, karena hampir semua keputusan pembelajaran ditentukan oleh guru dan tingkat otonomi siswa rendah.

Guru mengontrol sumber dan arus informasi serta aktivitas siswa, sehingga siswa sedikit terlibat atau bahkan tidak terlibat sama sekali dalam menentukan isi, metode, dan prosedur pengajaran. Pada tingkatan kedua, guru menggunakan model penemuan terbimbing untuk  melatih siswa menggunakan keterampilan memecahkan masalah secara otomatis, belajar berdasarkan pengalaman langsung, dan menginternalisasikan standar perilaku. Klahr dan Nigam (2004) menunjukkan bahwa pembelajaran langsung sangat efektif untuk mengajarkan keterampilan dasar atau prosedur dasar untuk penyelidikan ilmiah awal, sementara pembelajaran penemuan terbimbing lebih efektif untuk menerapkan keterampilan dasar dalam menyelesaikan permasalahan. Pada tingkatan ketiga, guru menggunakan pembelajaran berdasarkan masalah, dimana siswa dihadapkan pada permasalahan kehidupan nyata yang bermakna, kemudian diberi kesempatan untuk merencanakan dan melakukan penyelidikan yang diperlukan untuk memecahkan masalah tersebut. Savery and Duffy (2001) menjelaskan bahwa PBI konsisten dengan prinsip-prinsip pengajaran konstruktivisme. Siswa didorong dan diharapkan untuk berpikir kritis dan kreatif, serta aktif terlibat dalam bekerja pada tugas dan kegiatan yang autentik terhadap lingkungan di mana mereka belajar.

                   

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s