Pengajaran Langsung

a.    Pengertian Pengajaran Langsung

Howe and Jones (1993: 100) mendefinisikan pengajaran langsung sebagai berikut:

Direct instruction is the use of the traditional methods of lecture, demonstration, seat work, recitation, and feedback. The method is sometimes referred to as teacher-centered instruction because virtually all the instructional decisions are made by the teacher. The level of pupil autonomy is low. Pupils are generally not free to pace their own learning, to move about the room, to discuss their work with other pupils or to follow up interesting ideas they come across in the course of the lesson.

 

Pengajaran langsung disebut juga pembelajaran berpusat pada guru, karena hampir semua keputusan pembelajaran ditentukan oleh guru dan tingkat otonomi siswa rendah. Dalam menerapkan model pembelajaran langsung, guru harus mendemonstrasikan pengetahuan atau keterampilan yang akan dilatihkan kepada siswa secara langkah demi langkah. Peran  guru dalam pembelajaran sangat dominan, namun bukan berarti pembelajaran bersifat otoriter, dingin, dan tanpa humor. Sistem pengelolaan pembelajaran yang dilakukan oleh guru, harus tetap menjamin keterlibatan siswa, terutama melalui memperhatikan, mendengarkan, tanya jawab yang terencana, lingkungan yang berorientasi tugas, dan memberikan harapan tinggi agar diperoleh hasil belajar yang baik.

 b.   Landasan Teoritik

          Model pembelajaran langsung bertumpu pada prinsip-prinsip psikologi perilaku dan teori belajar sosial, khususnya tentang pemodelan (modelling). Teori belajar sosial tentang pemodelan tingkah laku itu dikembangkan oleh Albert Bandura. Menurut Bandura, belajar yang dialami manusia sebagian besar diperoleh dari suatu pemodelan, yaitu meniru perilaku dan pengalaman (keberhasilan dan kegagalan) orang lain.

          Bandura (Arends, 1997: 69) menyatakan bahwa “Belajar akan sangat menghabiskan waktu dan tenaga, dan bahkan berbahaya, jika manusia harus menggantungkan diri sepenuhnya pada hasil-hasil kegiatannya sendiri.” Selanjutnya Bandura menyatakan bahwa agar belajar dari suatu model dapat berjalan secara efektif, maka perlu dilaksanakan 4 fase belajar, yaitu fase perhatian, fase retensi, fase produksi, dan fase motivasi.

          Fase pertama dalam belajar observasional (pemodelan) adalah memberikan perhatian pada suatu model. Dalam pembelajaran, guru yang bertindak sebagai model bagi siswanya harus dapat menjamin agar siswa memberikan perhatian kepada bagian-bagian penting dari suatu pelajaran. Cara ini dapat dilakukan dengan menyajikan materi pelajaran secara jelas dan menarik, memberikan penekanan pada bagian-bagian penting, atau dengan mendemonstrasikan suatu kegiatan (Woolfolk, 1993: 221).

          Fase kedua, yaitu fase retensi bertanggung jawab atas pengkodean tingkah laku model dan menyimpan kode-kode itu di dalam ingatan (memori jangka panjang). Suatu proses retensi yang penting adalah pengulangan. Baik pengulangan secara mental (pengulangan tertutup), yaitu siswa membayangkan dirinya sendiri sedang melakukan tingkah laku model; maupun pengulangan secara motorik (pengulangan terbuka), yaitu siswa melakukan tindakan yang kasat mata, adalah sangat berguna sebagai alat bantu memori. Tentu saja proses retensi ini dipengaruhi oleh perkembangan kognitif siswa.

          Fase ketiga (fase produksi) mengijinkan model untuk melihat apakah komponen-komponen suatu urutan tingkah laku telah dikuasai oleh siswa. Dalam fase produksi ini, siswa diminta untuk menampilkan sesuatu yang telah dimodelkan dan si model hendaknya memberikan umpan balik baik pada aspek yang sudah benar, dan yang lebih penting lagi adalah ditujukan pada aspek yang masih salah dari penampilan.

          Fase terakhir dari proses belajar observasional ini adalah fase motivasi. Siswa akan meniru suatu model apabila mereka merasa bahwa dengan berbuat seperti model, mereka akan memperoleh penguatan. Fase motivasi dari belajar observasional seringkali berupa pujian atau nilai bagi yang dapat melakukan seperti yang dilakukan model (guru).

 c.    Tujuan Hasil Belajar Siswa

          Sebagian besar tugas guru ialah membantu siswa memperoleh pengetahuan prosedural,  yaitu pengetahuan tentang bagaimana melakukan sesuatu, misalnya bagaimana cara menggunakan neraca lengan (Ohauss), dan bagaimana melakukan suatu eksperimen. Guru juga membantu siswa untuk memahami pengetahuan deklaratif, yaitu pengetahuan tentang sesuatu (dapat diungkapkan dengan kata-kata), misalnya nama-nama bagian neraca Ohauss.

          Model pengajaran langsung dirancang secara khusus untuk mengembangkan belajar siswa tentang pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif yang terstruktur dengan baik dan dapat dipelajari selangkah demi selangkah. Menghafal hukum atau rumus tertentu dalam bidang sains merupakan contoh pengetahuan deklaratif sederhana (informasi faktual). Sedangkan, bagaimana cara mengoperasikan alat-alat ukur dalam sains merupakan contoh pengetahuan prosedural.

          Dalam banyak hal, penguasaan terhadap pengetahuan dasar prosedural dan deklaratif terdiri atas penguasaan kegiatan khusus dan kegiatan berurutan. Misalnya, agar siswa terampil menggunakan neraca Ohauss untuk mengukur massa, memerlukan pengetahuan deklaratif tentang nama-nama bagian neraca Ohauss dan juga pengetahuan prosedural seperti bagaimana mengenolkan neraca, menggeser anak timbang, dan membaca skala.

          Selain model pengajaran langsung efektif untuk digunakan agar siswa menguasai suatu pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif sederhana, model ini juga efektif untuk mengembangkan keterampilan belajar siswa. Beberapa keterampilan belajar siswa yang harus dikembangkan oleh guru, seperti menggarisbawahi, membuat catatan, dan membuat rangkuman.

  1. d.   Tingkah Laku Mengajar (Sintaks)

Pengajaran langsung mempunyai lima sintaks dapat dilihat pada Tabel 5.4.

Tabel 5.4 Sintaks Pengajaran Langsung

Fase

Perilaku Guru

  1. Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa.
Mengkomunikasikan garis besar tujuan pembelajaran, informasi latar belakang, dan mempersiapkan siswa untuk belajar.
  1. Mendemonstrasikan pengetahuan dan keterampilan.
Mendemonstrasikan pengetahuan dengan benar atau mempresentasikan informasi langkah demi langkah.
  1. Memberikan latihan terbimbing.
Memberi latihan awal.
  1. Mengecek pemahaman dan memberi umpan balik.
Mengecek untuk mencari tahu apakah siswa melakukan tugas dengan benar dan memberi umpan balik.
  1. Memberi latihan lanjutan dan transfer.
Mempersiapkan kondisi untuk latihan lanjutan dengan memusatkan perhatian pada transfer keterampilan ke dalam situasi yang kompleks.

   Nur (2008: 36)

Langkah-langkah pengajaran langsung di atas, dapat dijelaskan lebih rinci sebagai berikut:

1)   Menyampaikan Tujuan dan Memotivasi Siswa

Pada awal pembelajaran, guru yang baik selalu mengawali dengan memberikan motivasi kepada siswa agar tertarik dan terlibat dalam proses pembelajaran, menyiapkan siswa untuk belajar dengan menggali pengetahuan awalnya terkait dengan materi prasyarat yang akan dipelajari, dan menyampaikan tujuan pembelajaran untuk memperjelas tujuan yang diharapkan tercapai setelah pembelajaran selesai.

2)   Mendemonstrasikan Pengetahuan dan Keterampilan

Pengajaran langsung sangat berpegang teguh pada teori pembelajaran sosial Bandura, karena sebagian besar dari apa yang dipelajari manusia itu diperoleh melalui pengamatan pada orang lain (pemodelan). Belajar melalui pengamatan melibatkan tiga langkah yaitu atensi, retensi, dan produksi. Demonstrasi dimaksudkan untuk melatih keterampilan memecahkan masalah secara tahap demi tahap. Kegiatan ini dapat menghemat waktu karena menghindarkan siswa dari belajar trial and error.

3)   Memberikan Latihan Terbimbing

Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh guru dalam merencanakan dan melakukan pelatihan terbimbing adalah sebagai berikut: a) perhatian terhadap tahap awal latihan, biasanya siswa sering menggunakan teknik yang tidak benar dan ingin mengukur tingkat keberhasilannya dalam mempelajari materi tersebut, b) memberikan latihan singkat dan bermakna, jika keterampilannya kompleks maka pada awal pelatihan perlu disederhanakan, c) memberikan pelatihan sampai siswa menguasai konsep/ keterampilan yang dipelajari, terutama keterampilan yang merupakan prasyarat untuk keterampilan berikutnya, dan d) memberikan pelatihan lebih terutama keterampilan memecahkan masalah yang penting bagi kinerja selanjutnya.

4)   Mengecek Pemahaman dan Memberikan Umpan Balik

Guru mengajukan pertanyaan, kemudian siswa memberikan jawaban dan guru merespon jawaban siswa. Tanpa umpan balik, siswa tidak dapat memperbaiki kekurangannya dan tidak dapat menguasai keterampilan dengan benar. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memberikan umpan balik yaitu: a) segera, b) spesifik, c) konsentrasi pada perilaku, bukan pada keinginan guru yang harus diinterpretasikan siswa, d) sesuai tingkat perkembangan siswa,  e) memberikan penghargaan pada kinerja yang dianggap benar, f) membantu memusatkan perhatian siswa pada proses bukan produk, dan g) melatihkan cara memberikan umpan balik kepada dirinya sendiri dan bagaimana menilai keberhasilan kinerjanya sendiri.

5)   Pelatihan Lanjutan dan Transfer

Fase terakhir ini merupakan kesempatan bagi siswa untuk menerapkan keterampilan baru yang diperolehnya secara mandiri. Tiga panduan umum untuk latihan mandiri sebagai berikut: a) tugas rumah sebagai pelatihan lanjutan atau persiapan pembelajaran berikutnya, b) melibatkan orang tua dalam membimbing anaknya di rumah, c) memberikan umpan balik atas pekerjaan yang dilakukan siswa di rumah.

e.    Lingkungan Belajar dan Sistem Pengelolaan

          Pembelajaran langsung memerlukan perencanaan dan pelaksanaan yang sangat hati-hati di pihak guru. Agar efektif, pembelajaran langsung mensyaratkan tiap detil keterampilan atau isi didefinisikan secara saksama. Demonstrasi dan jadwal pelatihan juga harus direncanakan dan dilaksanakan secara saksama.

          Meskipun tujuan pembelajaran dapat direncanakan bersama oleh guru dan siswa, model ini terutama berpusat pada guru. Sistem pengelolaan pembelajaran yang dilakukan oleh guru harus menjamin terjadinya keterlibatan siswa, terutama melalui memperhatikan, mendengarkan, dan resitasi (tanya jawab) yang terencana. Ini tidak berarti bahwa pembelajaran bersifat otoriter, dingin, dan tanpa humor, tetapi lingkungan berorientasi pada tugas dan memberi harapan tinggi agar siswa mencapai hasil belajar dengan baik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s